KAJIAN NILAI SASTRA ANAK SULAWESI BARAT
ALTERNATIF MATERI AJAR DALAM PENGAJARAN SASTRA
Juanda
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa
dan Sastra
Universitas Negeri Makassar
HP 085255007915
ABSTRAK
Dongeng
sebagai sastra anak merupakan cerita rakyat yang telah ditulis dalam bentuk
kumpulan cerita rakyat nusantara. Sulawesi Barat memiliki aneka sastra anak
seperti dongeng yang belum digunakan
sebagai materi ajar di sekolah karena kurang bahan pustaka hasil kajian mengenai
nilai-nilai dongeng tersebut. Dongeng menumbuhkan kreativitas, menanamkan
karakter dan moral yang baik bilamana diajarkan di sekolah. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai
dongeng yang ada di Sulawesi Barat dan dongeng sebagai alternatif materi ajar
dalam pengajaran sastra di sekolah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Metode
yang digunakan adalah deskriptif. Sumber
data berasal dari dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi
dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik pemahaman arti secara mendalam,
analisis isi, dan analisis interaktif- dialektis. Hasil penelitian, yaitu
nilai-nilai yang ada dalam dongeng Samba
Paria dan I Tuing-Tuing adalah
nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Karya sastra
ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah karena mengandung
nilai-nilai luhur sehingga siswa dapat menarik pelajaran yang berharga untuk
diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Kata Kunci: Nilai, Sastra
Anak, dan Pengajaran Sastra
THE STUDY OF THE VALUE OF CHILDREN’S LITERATURE IN
WEST SULAWESI AS ALTERNATIVE TEACHING MATERIALS IN TEACHING LITERATURE
Dr. Juanda, M.Hum.
Indonesia and Literature
Department, Faculty of Language and Literature
Universitas Negeri Makassar
Hp 085255007915
Abstract
The folktale as
children literature is a folklore written in the form collection of literary
archipelago. West Sulawesi has some
varieties of children’s literature, such as folktale that has not been used as
teaching materials at school because they have not enough literary review about
the values which are in that folktales. The folktale can improve creativity, good
moral and character in teaching at school. This research aims at finding out the study of folktale
values in West Sulawesi and as alternative teaching materials in teaching
literature at school. This research is qualitative. The method used in this research
is descriptive. The primary data are from,
Samba Paria and I Tuing-Tuing folktales. The data collection are from
documentation technique. The data analysis used in-depth meaning, content, and
interactive dialectics. The result of the research shows that Somba Paria, and I Tuing Tuing folktales
contain social, education, religious, and culture values. These literary work
can be an alternative teaching material at school, because they contain very
good values and can be applied in the daily life of family, education and
environment.
Keywords
: Value,
Children’s literature, and teaching literature
PENDAHULUAN
Dongeng sebagai sastra anak
merupakan cerita rakyat yang telah ditulis dalam bentuk kumpulan cerita rakyat
nusantara. Sulawesi Barat memiliki aneka sastra anak seperti dongeng yang belum digunakan sebagai materi ajar di
sekolah karena kurang bahan pustaka mengenai kajian nilai-nilai dongeng
tersebut. Dongeng menumbuhkan kreativitas, menanamkan pendidikan karakter dan
moral yang baik bilamana diajarkan di sekolah. Dongeng dapat menjadi sarana pengembangan
watak peserta didik. Sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Sedangkan Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ciri khas kedaerahan, sastra anak,
yang tersebar di wilayah nusantara perlu dilestarikan dengan mengadakan
inventarisasi nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra anak tersebut.
Hal ini merupakan pondasi untuk memenuhi kebutuhan masa depan bangsa Indonesia
dan menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045. Oleh karena itu, telah
ditetapkan Standar Kompetensi Lulusan yang berbasis pada Kompetensi Abad XXI,
Bonus Demografi Indonesia, dan Potensi Indonesia menjadi Kelompok 7 Negara
Ekonomi Terbesar Dunia, dan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia terhadap
pembangunan peradaban dunia.
Peraturan
Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses
Pendidikan Dasar Dan Menengah Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan
Standar Isi, prinsip pembelajaran yang digunakan, antara lain: Dari peserta
didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu; peningkatan dan keseimbangan
antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
sebagai pembelajar sepanjang hayat;
pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing
ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri
handayani); Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik.
UNESCO dalam Konferensi Internasional ke-48
tentang pendidikan pada tahun 2008 menetapkan konsep pendidikan untuk
pengembangan sumber daya manusia, belajar sepanjang hayat untuk semua dan
kesamaan akses dan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat (Ruaire, E.Ottesen, dan R.Precey,2013: 10). Karya
sastra abad ke-19, sastra lisan merupakan bentuk teks yang memuat nilai budaya
(Gural dan Stepan A.Boyko, 2014: 341). Kajian
nilai dalam sastra telah dilakukan, antara lain: (Grixti, 2009) yang mengangkat
sastra klasik dengan komponen nilai-nilai budaya yang dimodifikasi dalam film.
Penelitian (Gural, S.A. Boyko dan T.S. Serova, 2015: 436) meneliti sastra
sebagai suatu bentuk teks dan mekanisme transformasi dan representasi pemahaman
bahasa. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai dongeng yang ada di
Sulawesi Barat dan dongeng sebagai alternatif materi ajar dalam pengajaran
sastra di sekolah.
TEORI
Pembelajaran sastra, pada
hakikatnya bertujuan agar peserta didik beroleh pengetahuan dan pengalaman bersastra.
Intinya pembelajaran sastra bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik
dalam mengapresiasi karya sastra. Dengan pengalaman mengapresiasi dan menggauli cipta sastra secara
sunguh-sungguh diharapkan tumbuh pemahaman,
penghayatan, penikmatan, dan penghargaaan peserta didik terhadap karya sastra
tersebut. Peserta didik memperoleh manfaat
dalam memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan bahasa (Mustika, 2011: 59). Sastra anak adalah “Writing
designed to appeal to children-either to be read to them or by them including
fiction, poetry, biography and history. Children literature’s literature also
includes riddles, precepts, fables, myths, and folk- poem and folktales based
on spoken tradition“ (Sugihastuti, 2001: 2). Penyediaan bahan bacaan sastra
dan membacakan cerita untuk anak membantu memenuhi kebutuhan dasar anak akan
perasaan aman terlindungi, kebutuhan akan rasa dicintai dan mencintai, juga
kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (needs to know and understand)
serta kebutuhan estetis (aesthetic needs) (Schultz, 1991:93). Strategi
membaca efektif dalam konteks pembelajaran bahasa kedua secara lebih khusus
dapat dilakukan dengan membaca sastra (Urlaub, 2012: 298). Anak memiliki tahap
perkembangan yang pesat. Tahap perkembangan menurut Peaget (1932) pada anak antara
lain meningkatkan kesadaran mereka terhadap pengaruh tindakan yang dilakukan (Cooper,
2011:18).
Persoalan
nilai dan pengajarannya telah dibicarakan oleh filsuf Socrates dan Aristoteles.
Pengajaran nilai menurut Socrates selalu berkaitan dengan moral dan logika.
Aristoteles mengemukakan moral yang baik
meliputi: friendliness, honesty, justice
dan courage. Seseorang dapat melakukan tindakan moral bilamana dipertentangkan,
misalnya: honesty-dishonesty;
patience-impatience; courage-cowardice; hard work-slothfulness. Pengajaran
moral dapat dilakukan dengan membandingkan dan mempertentangkan antara perilaku
dengan tindakan (Stephenson, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper, 2005:5-6).
Sastra
merupakan serangkaian ajaran normatif tidak hanya fungsi dan nature pada sastra
tetapi juga efek kompeten dan estetis pada pembaca (Rees, 1987: 277). Nilai
terdiri atas berbagai jenis yang mudah digambarkan seperti kata berikut ini: self-respect;
self-discipline; care (for others); goodwill; respect (for others); loyalty;
trust; cooperation; love; commitment; truth; integrity; honesty; balance;
diversity; beauty naturally occur on many people's list of moral values. It is
easy to add more words for values that may not be moral values, such as:
security (a sense of security); comfort; cheerfulness; convenience;
intelligence; efficiency; cost-effectiveness; neatness; reasonableness
(Haydon, 2006:35-36). Nilai adalah hal-hal yang merujuk pada care and compassion, doing your best, fair
go, freedom, honesty and trustworthiness, integrity, respect, responsibility,
understanding, tolerance (Freakley,
G. Burgh, dan L.T. Macsporran, 2008:9).
Nilai merupakan validitas individual, seseorang dapat memberikan
penilaian kepada orang yang lain. Keputusan nilai apakah itu bagus ditentukan dalam
komunitas atau kelompok sosial. Nilai secara intuitif dapat menjadi
persetujuan, misalnya agak sulit memilih antara kebahagiaan dan rasionalitas
dan lebih gampang memilih antara kebebasan dan perbudakan atau kebenaran dan
kebohongan (Harland dan Neil Pickering, 2011: 10). Nilai merujuk pada principles, fundamental convictions, ideals,
standards or life stances wich act as general guide to behavior or as points of
reference in decision-making or the evaluation of beliefs or action and which
are closely connected to personal integrity and personal identity (Halsted,
dan Monica J.Taylor, 2005: 4).
Berbicara
tentang nilai karya sastra, tidak dapat dilepaskan dari pendidikan moral, yaitu
dari sudut pandang sosial dan kelompok. Pendidikian moral dari pandangan
pemakaian dalam masyarakat dimulai pada pendidikan waktu masih muda seperti
tindakan individu dalam kekerasan, pencurian, kejahatan, vandalism, dan yang
mirip kemabukan, narkoba, dan masalah pergaulan dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan moral dapat menekan hal-hal yang disebutkan di atas dalam masyarakat.
Pandangan nilai dalam kelompok merupakan komitmen tingkah laku dan percaya
adalah hal yang bukan utama sebab hal yang tepat dihormati orang dewasa
merupakan bagian dari bentuk nilai yang dilaksanakan dalam kehidupan dengan sistem
utama pada kepercayaan, praktis, dan pertaliannya dalam kepercayaan kelompok
(Wringe, 2005: 37-38). Pendidikan moral mempunyai peranan penting di sekolah,
yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab (Zuriah, 2007: 9).
Empati
sebagai keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi diperlukan dalam kepemimpinan
dan keorganisasian yang dipelajari di sekolah (Stephenson, L.L. Eva Burman, dan
Maxine Cooper, 2005:216). Ada tiga unsur
dalam nilai, yaitu: thinking, feeling,
and willing atau kognitif, afektif, dan volitional ‘kemauan’ (Poole, 1995: 18).
Kritik yang kompeten digunakan dalam menilai karya sastra yaitu sastra yang
baik berkontribusi pada keterampilan menulis, kemampuan berpikir, penguasan
bahasa, dan kekritisan (Cummins, 2016: 108). Isi dongeng terdapat hal-hal yang
bersifat humor: ironis, menusuk, menakutkan, seram (Maurice, 2014: 68).
Komponen
intrinsik dan objeknya, nilai estetis dalam karya sastra merupakan bagian yang
utama dalam penekanan pemakaian kognitif adalah elemen utama dalam apresiasi
kesatuan bentuk yang tidak dapat dipisahkan dengan persepsi, emosi, dan
imajinasi. Dapat ditekankan bahwa interpretasi kognitif ditemukan secara tersirat
sebagai tema dalam suatu penceritaan. Pengertian ini memberikan peran unsur
formal atau unsur struktur. Tema dalam suatu cerita berkaitan dengan kehidupan
menarik bagi manusia yang berkaitan
masalah etika dan sosial dan hubungannya dengan individu. Hal ini merupakan
bahan dalam suatu konflik cerita yang merupakan bahan pula dalam unsur penceritaan
(Goldman, 2013:6). Nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik dalam sastra adalah
baik untuk diri sendiri dan apakah baik untuk instrument pencarian pada yang
lain (Appelbaum, 2016: 1). Selanjutnya (Berning, 2013) menganalisis teks untuk
menemukan nilai moral yang terdapat dalam cerita.
Konteks
pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan seseorang. Sejumlah orang
dapat meningkatkan kehidupannya, merupakan bagian dari hidupnya. Setelah melewati
masa anak-anak, kita masih menjalani konteks pendidikan, misalnya dalam konteks
sekolah, mahasiswa, pelatihan professional. Hal ini hampir menjadi garansi yang
membawa orang tidak menjadi bagian pada nilai yang sama. Isi konteks ini
berpotensi untuk konflik antar seseorang dengan yang lain sebab mereka memiliki
nilai yang berbeda (Leicester, C.Modgil dan S.Modgil, 2005: 75).
Kebudayaan
adalah pengetahuan yang diperoleh dan digunakan oleh manusia untuk menginterpretasi pengalaman dan melahirkan
tingkah laku sosial (Spradley, 1997: 5). Budaya menghasilkan karya sastra
mengekspresikan kehidupan dalam bentuk, genre yang biasa juga dituliskan dalam
bentuk kritik, pemberitaan oleh jurnalis, ulasan, obituary ’berita kematian’
atau dalam blog (Aegleton, 2011: 172).
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun
bahan ajar meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan dengan
standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang ditargetkan. Widdowson (Martono, 2010: 118) menguraikan bahan ajar atau
materi pembelajaran sastra, yaitu materi ajar harus memiliki dua prinsip. Pertama,
bahan pengajaran sastra harus memperhatikan keberadaan teori sastra sebagai disiplin
yang berkaitan dengan perangkat konsep, jalan pikiran, maupun penemuan
sehubungan dengan keberadaan karya sastra. Kedua, bahan pengajaran sastra harus
didudukkan sebagai subjek yang ditata sesuai dengan disiplin dan prinsip dalam
metodologi pendidikan. Lazar (2002: 52) menjelaskan bahwa kriteria yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih teks sastra untuk bahan ajar adalah: (1) latar
belakang budaya siswa; (2) kemahiran sastra siswa; (3) latar belakang sastra
siswa. Khusus materi cerpen (Elkins,
1976: 68) menyarankan memilih cerpen yang memenuhi kriteria berikut: (1) berkosentrasi
pada plot, karakter, setting dan tema; (2) mencakup kompleksitas dan ambiguitas
untuk meningkatkan kepekaan dan level kognitif siswa dan aspek naratifnya tetap
terjaga sehingga pembelajaran tetap menarik.
METODE
Jenis
penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan
adalah deskriptif. Sampel penelitian yang digunakan sebagai Sumber
data berasal dari dongeng yang
dituturkan di Sulawesi Barat yang berjudul Samba
Paria dan I Tuing-Tuing.
Pengumpulan data, dongeng dilakukan dengan teknik studi dokumentasi. Analisis
data menggunakan teknik pemahaman arti secara mendalam, analisis isi, dan analisis
interaktif- dialektis. Teknik analisis data berorentasi pada pendekatan
peneliti sebagai pembaca dongeng “reader
oriented” dan functional seperti
yang dikemukakan dalam Formalisme Rusia (Brown, 2014:117). Selanjutnya dalam
penganalisisan teks diadakan interpretasi makna kata, frasa, dan kalimat.
Analisis teks untuk menentukan nilai-nilai
yang ada dalam karya sastra (Davies, 2006:224).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian berdasarkan data yang telah
dianalisis menemukan nilai-nilai dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing,
yaitu: nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Nilai
tersebut dapat dideskripsikan dalam data di bawah ini.
1.Nilai Sosial
Nilai
sosial dapat dilihat adanya saling kepedulian antara ayah, ibu dan I Tuing-Tuing.
I Tuing- Tuing selalu membantu
ayahnya matongga ‘menangkap” ikan di Teluk Mandar. Ibu menyiapkan masakan
keluarganya setiap hari. Contoh kutipan di bawah ini.
“Waktu terus
berjalan. Beberapa tahun kemudian, I Tuing-Tuing pun tumbuh dewasa. Ia sering
ikut bersama ayahnya motangnga di sekitar Teluk Mandar. Ia juga rajin membantu
ibunya memasak di dapur sepulangnya dari motangnga.” (ITT).
Nilai sosial selanjutnya dapat
dilihat pada dongeng Samba Paria. Samba Paria menolong/mengambilkan air Sang
Raja yang kehausan. Air tersebut diambil letaknya jauh di balik gunung. Selain
itu, kehidupan antara kakak dan adik selalu saling menyayangi dan saling
menolong bila mengalami kesulitan. Samba Paria akhirnya hidup dalam ketenangan
kedamaian meskipun hidupnya di tengah hutan belantara.Contoh kutipan di bawah
ini.
“Ampun Baginda
Raja, air minum hamba telah habis,” jawab Samba Paria. Namun, Jika baginda raja
bersedia menunggu, biarlah adik hamba mengambilkan air ari mata air di balik
gunung terlebih dahulu.” (LSP).
“Adik Samba
Paria sangat gembira melihat kakaknya telah pulang. Ia yang tengah sakit keras
akhirnya bersedia makan masakan buatan kakaknya. Kesehatannya pun segera berangsur-angsur membaik.” (LSP).
“Samba Paria
dan adiknya kemudian hidup dalam
ketenangan dan kedamaian setelah sang raja yang jahat kelakuannya itu
meninggal dunia. Keduanya tetap tinggal di rumah panggung mereka di tengah hutan belantara.” (LSP).
2.Nilai
Pendidikan
Nilai
pendidikan dalam sasrta anak adalah nilai-nilai yang ada dalam sastra, misalnya
dongeng. Nilai ini sesuai dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan berkaitan
dengan eksplorasi dan penemuan,
perkembangan bahasa, pengembangan nilai keindahan penanaman wawasan multikultural,
penanaman kebiasaaan membaca, dan penanaman pembentukan karakter. Nilai
pendidikan yang merupakan pendidikan karakter dapat dilihat pada kutipan yang
memfokuskan pada karakter pemaaf, menghargai pendapat orang lain, jujur,
disiplin, dan penyayang, dan kebenaran. Ibu I
Tuing-Tuing selalu menghaturkan ucapan maaf kepada juragan sebelum memulai
pembicaraan. Selanjutnya juragan memintai pendapat anak-nakanya sebelum
memutuskan penerimaan lamaran dari orang tua I Tuing-Tuing. Orang tua tidak memaksakan kehendak kepada anaknya. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Maaf
Juragan, jika kami terlalu lancang terhadap keluarga Juragan. Kami bermaksud
untuk menyampaikan pinangan anak kami I Tuing-Tuing kepada salah seorang putri
Juragan,” ungkap Ayah Tuing-Tuing.” (ITT).
“Oh begitu...!
Baiklah, aku akan menanyakan hal ini kepada putri-putriku, siapa di antara
mereka yang bersedia menikah dengan I Tuing-Tuing,” jawab sang Juragan seraya
mengumpulkan semua putrinya, kecuali Siti Rukiah yang tetap dikurung dalam
kamar.” (ITT).
Kejujuran
dapat dilihat pada anak juragan, putri bungsu yang menerima lamaran I Tuing-Tuing
tanpa merasa terpaksa atau tanpa membohongi kata hatinya dan kejujuran Juragan
mengemukakan kejelekan anaknya. Contoh kutipan di bawah ini.
“Maafkan kami,
Pak! Aku lupa, ternyata aku masih mempunyai seorang putri lagi, namanya Siti
Rukiah. Tapi lihatlah, wajahnya sangat buruk, karena setiap hari pakai bedak
arang. Apakah kalian bersedia menerimanya?” sang Juragan balik menawarkan
putrinya kepada kedua orangtua I Tuing-Tuing.” (ITT).
“Dengan senang
hati, Tuan! Wajah cantik tidaklah terlalu penting bagi anak kami. Tapi, yang
penting putri Juragan bersedia untuk hidup bersama dengan anak kami,” jawab ibu
I Tuing-Tuing. (ITT).
Nilai
pendidikan khususnya pendidikan karakter yang berkaitan dengan kerajinan dapat
dilihat pada perilaku tokoh I Tuing-Tuing
yang rajin membantu orang tuanya menangkap ikan. Contoh kutipan di bawah
ini.
“Ia juga rajin
membantu ibunya memasak di dapur sepulangnya dari motangnga. Tidak heran jika
kedua orang tuanya semakin sayang kepadanya. Apa pun permintaannya, mereka
selalu berusaha untuk memenuhinya.” (ITT).
Selanjutnya nilai pendidikan
yang terdapat dalam dongeng I Tuing-Tuing
yaitu yang berkaitan dengan goodwill
‘jasa baik’. I Tuing-Tuing tidak
melupakan jasa baik kedua orang tuanya sehingga keduanya mengadakan
silaturrahmi. Nilai pendidikan berikut adalah nilai yang berkaitan dengan comfort atau menyenangkan. Keluarga I Tuing-Tuing sangat senang melihat
anaknya, I Tuing-Tuing dan menantunya
Siti Rukiah. Contoh kutipan di bawah ini.
“ Pertama-tama
mereka mengunjungi rumah orangtua I Tuing-Tuing. Alangkah terkejutnya kedua
orangtua I Tuing-Tuing ketika mengetahui bahwa lelaki gagah dan tampan itu
adalah anaknya, dan gadis cantik itu adalah menantunya. Demikian pula ketika
mereka sampai di rumah orangtua Siti Rukiah. Keluarga Siti Rukiah seakan-akan
tidak percaya pada kenyataan itu, terutama kelima saudarinya. Mereka pun sangat
menyesal, karena dulu menolak pinangan I Tuing-Tuing.” (ITT).
Nilai
yang menunjukkan penyayang dapat dilihat pada tokoh Siti Rukiah yang hidup
rukun dengan suaminya dengan saling menyayangi. Contoh kutipan di bawah ini.
“Namun, semuanya hanya tinggal penyesalan.
Entah sampai kapan kelima gadis itu terus menunggu jodoh mereka datang.
Sementara, Siti Rukiah hidup rukun dan bahagia bersama suami tercintanya, I Tuing-Tuing.“
(ITT).
Nilai
kebenaran dapat dilihat pada dongeng Samba Paria, yaitu Samba Paria memberikan
jejak kepada adiknya yang ditinggalkan. Akhirnya tempat Samba Paria yang dibawa
pergi oleh Raja dapat diketahui. Nilai kebenaran diungkapkan secara tersirat.
Sang raja yang membuat kejahatan meninggal. Sementara Samba paria yang selalu
melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan norma kebenaran hidup bahagia.
Contoh kutipan di bawah ini.
“Tanpa
diketahui para prajurit yang mengawalnya, Samba Paria merobek daun-daun paria
yang dibawanya itu dan dibuangnya di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dengan
cara itu ia berharap adiknya dapat mengikutinya hingga ke tempat di mana ia di
bawa.“ (LSB).
3.Nilai
Religius
Nilai
religius adalah nilai yang berkaitan dengan kepercayaan atau yang berkaitan
dengan Tuhan. Nilai yang mengarahkan seseorang melaksanakan hal-hal yang
berkaitan dengan kepercayaan atau norma agama. Nilai ini dapat dilihat pada kedua
orang tua I Tuing-Tuing selalu berdoa
kepada Tuhan. Hal ini dilakukan agar mereka dikaruniai seorang anak.
Selanjutnya mereka berdoa demi keselamatan kandungan anaknya dan keselamatan
pada saat melahirkan. Contoh kutipan di bawah ini.
“Ya Tuhan yang
Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah kepada kami seorang anak
laki-laki, walaupun bentuknya menyerupai tuing-tuing!” Doa sepasang suami-istri
itu.” (ITT).
“Setiap malam
ia selalu berdoa kepada Tuhan agar kelak istrinya melahirkan dengan selamat.
Demikian pula sang Istri, ia senantiasa menjaga dan merawat bayi di dalam
kandungannya agar tetap dalam keadaan sehat.” (ITT).
4.Nilai
Budaya
Nilai
budaya adalah nilai yang diwariskan oleh nenek moyang yang tetap hidup dan
berakar di masyarakat. Tradisi atau adat yang muncul dalam suatu komunitas
tertentu selalu dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Tradisi ini
diwariskan secara turun-temurun. Tradisi budaya seperti tradisi pada saat usia
kandungan seseorang berumur tujuh bulan. Acara ini disebut dengan acara niuri dengan persiapan yang dibutuhkan.
Hal ini dimaksudkan sebagai keselamatan bayi pada saat dilahirkan. Contoh
kutipan di bawah ini.
“Tidak terasa,
usia kandungan sang Istri sudah menginjak tujuh bulan lebih. Seperti halnya
masyarakat Mandar lainnya, mereka pun mengadakan acara tujuh bulanan yang
disebut dengan niuri secara
sederhana. Mereka pun menyiapkan beberapa jenis kue yang bentuknya bulat,
seperti onde-onde, gogos, dan semacamnya, dengan harapan kelak sang Istri
melahirkan anak laki-laki. Berbeda halnya jika mereka mengharapkan anak
perempuan, mereka harus menyiapkan kue-kue yang berbentuk gepeng, seperti pupu,
lapisi, katiri mandi, dan semacamnya” (ITT).
Setelah acara nipande mangidang
(makan kue bersama), mereka kemudian melantunkan lagu-lagu Mandar yang berisi
doa, seperti berikut:
Alai
sipa`uwaimmu
Pidei sipa` apimmu
Tallammo`o
liwang
Muammung
pura beremu
Artinya :
Ambil sifat airmu (gampang
mengalir)
Padamkan sifat apimu (panas)
Keluarlah engkau
Membawa takdirmu
Uwai
penjarianmu
Uwai
pessungammu
Uwai
pellosormu
Uwai
pellene`mu
Uwai
peoromu
Uwai
pellambamu
Uwai
atuo-tuoammu.
Artinya :
Engkau tercipta dari air
Keluarlah merangkak, duduk dan
berjalan seperti lancarnya air mengalir
Murahlah rezekimu dan dingin
seperti air“ (ITT).
Berdasarkan
analisis data kedua dongeng di atas maka pada bagian pembahasan ini akan diulas
nilai dan materi ajar dongeng Samba Paria
dan I Tuing-Tuing. Kedua dongeng
ini memiliki nilai, yaitu: nilai
sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Nilai pendidikan berisi
pendidikan dalam hal pembentukan karakter seperti pemaaf, menghargai, jujur, disiplin,
menghormati, penyayang, dan kebenaran seperti yang dikemukanan oleh (Halsted, dan Monica J.Taylor, 2005). Dalam dongeng
Samba Paria terdapat hal-hal yang bersifat ironis, menusuk, menakutkan, seram
(Maurice, 2014). Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran tokoh keduanya
perempuan tetapi mereka hidup di hutan. Figur tokoh seperti ini dapat menjadi
ironi bagi kaum perempuan untuk dapat hidup mandiri.
Kedua
dongeng yang telah dianalisis dapat menghasilkan empati kepada siswa terhadap
tokoh-tokohnya empati sebagai keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi
diperlukan dalam kepemimpinan dan keorganisasian yang dipelajari di sekolah
(Stephenson, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper, 2005:216). Nilai-nilai dalam
dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing dapat menjadikan siswa
berpikir lebih kritis dalam aspek kognitif sehingga mempengaruhi aspek afektif
dan kemauan bertindak sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat tempat
mereka tinggal. Ada tiga unsur dalam nilai, yaitu: thinking, feeling, and wiiling atau kognitif, afektif, dan volitional ‘kemauan’ (Poole, 1995).
Samba Paria dan
I Tuing-Tuing, keduanya dapat
dijadikan materi ajar di sekolah. Karya sastra ini dapat dijadikan sebagai
alternatif bahan ajar di sekolah karena mengandung nilai-nilai luhur sehingga
siswa dapat menarik pelajaran yang berharga untuk diterapkan pada kehidupan
sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kebudayaan
adalah pengetahuan yang diperoleh dan
digunakan oleh manusia untuk menginterpretasi
pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial (Spradley, 1997: 5). Nilai budaya
ini terdapat dalam dongeng I Tuing-Tuing yaitu budaya Mandar niuri. Beberapa prinsip yang perlu
diperhatikan dalam menyusun bahan ajar meliputi prinsip relevansi, konsistensi,
dan kecukupan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditargetkan.
Widdowson (Martono, 2010: 118) menguraikan bahan ajar atau materi pembelajaran
sastra harus memiliki dua prinsip. Pertama, bahan pengajaran sastra harus
memperhatikan keberadaan teori sastra sebagai disiplin yang berkaitan dengan
perangkat konsep, jalan pikiran, maupun penemuan sehubungan dengan keberadaan
karya sastra. Kedua, bahan pengajaran sastra harus didudukkan sebagai subjek
yang ditata sesuai dengan disiplin dan prinsip dalam metodologi pndidikan. Lazar
(2002: 52) menjelaskan bahwa kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam memilih
teks sastra untuk bahan ajar adalah: (1) latar belakang budaya siswa; (2) kemahiran
sastra siswa; (3) latar belakang sastra siswa. Khusus materi cerpen (Elkins, 1976: 68) menyarankan memilih cerpen
yang memenuhi kriteria berikut: (1) berkosentrasi pada plot, karakter, setting,
dan tema; (2) mencakup kompleksitas dan ambiguitas untuk meningkatkan kepekaan
dan level kognitif siswa dan aspek naratifnya tetap terjaga sehingga
pembelajaran tetap menarik.
Implikasi penelitian ini yaitu: implikasi teoretis dalam
penelitian ini adalah menambah pengayaan dalam teori sastra dan pengajarannya
khusunya terhadap pengajaran nilai kepada peserta didik melalui karya satra,
sastra anak yang berupa dongeng. Implikasi di bidang kebijakan khususnya kepada
penentu kebijakan dalam penyusunan kurikulum agar memberikan porsi pada
pengajaran sastra, sastra anak yang mencukupi berdasarkan pengalokasian waktu.
Di sekolah pengadaan materi ajar/buku dongeng diharapkan disediakan secara
mamadai di perpustakaan. Implikasi Metodologis, Peneliti selanjutnya dapat
menggunakan pendekatan feminisme dalam penelitian sastra anak.
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil
penelitian, yaitu nilai-nilai yang ada dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing
adalah nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya.
Karya sastra ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah. Dongeng
Samba Paria dan I Tuing-Tuing mengandung nilai-nilai luhur sehingga siswa dapat
menarik pelajaran yang berharga untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari
dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Disarankan kepada peneliti selanjutnya
mengadakan pengkajian sastra anak yang tersebar di pelosok nusantara, Sulawesi
Barat. Sastra anak tersebut dikaji dengan berbagai pendekatan untuk menemukan
kandungan nilai sastra tersebut. Hal ini dilakukan guna pelestarian nilai-nilai
budaya bangsa Indonesia sebagai alat pemertahanan identitas pada era globalisasi.
Era globalisasi dapat melunturkan ciri identitas bangsa. Sastra mencakup empat
genre, yaitu: prosa, puisi, drama dan film. Sastra anak berupa dongeng dapat
dielaborasi dalam bentuk film sehingga menjadi media pembelajaran sastra di
sekolah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada rekan sejawat yang telah mengadalan validasi isi
penelitian ini; teman sejawat yang telah memberikan bantuan pengayaan referensi.
Terima kasih kepada pihak yang telah mengadakan editing tulisan ini. Terima
kasih kepada panitia Forum Ilmiah XII FPBS 2016, Seminar Internasional Bahasa,
Sastra, dan Pembelajarannya ‘Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi Asean’
atas dimuatnya artikel ini dalam prosiding.
DAFTAR PUSTAKA
Appelbaum, Robert. 2016. Rónán McDonald,
Editor: The Values of Literary Studies:
Critical Institutions,Scholarly Agenda. Cambridge: Cambridge University
Press, 2015. ISBN 978-1-107-57568-4. 265 pages. Studia Neplologica. Routledge.
Berning, Nora.
2013. “Towards a Critical Ethical Narratology: Analyzing Value
Construction in Literary Non-Fiction
across Media.” WVT-Handbücher und Studien
zur
Medienkulturwissenschaft 9. Trier: Wissenschaftlicher Verlag Trier.
Brown,
Edward J. 1900. “Literary Structure Evolution, and Value: Russian Formalism and
Czech Sctructuralism, Jurij Striedter.” Journal Aseees vol. 49,No.1,pp. 117-118.
Cooper,
Bridget. 2011. Emphaty in Education,
Engagement, Values, and Achievement. New York: Continuum.
Cummins, Anthony. 2016.
“Emile Zola’s Cheap English Dress: The Vizetelly Translations, Late Victorian Print Culture, and
The Crisis of Literary Value.” Oxford
Journals, vol.60 No. 243, pp
108-132.
Davies, Stephen. “Author’s
Intentions, Literary Interpretation, and literary Value.” British Journal of
Aestetis, vol.46, No.3 July 2006. British Society of Aesthetics.
Eagleton, Mary. 2011. Who old is New: Diana Athill and Literay
Value. Oxford: Oxford university
Press.
Elkins, Deborah. 1976. Teaching Literature. Ohio: Charle E.
Merril Publishing Co.
Freakley,Mark, G. Burgh, dan L.T. Macsporran. 2008. “Values
Education in Schools, A Resource Book
for Student Inquiry.” Australia: Acer Press. 20-22 October 2014. Procedia
Social and Behavior Science, 154 (2014),pp. 340-344.
Goldman,
Alan H. 2013. ‘Introduction Introduction Philosophical Content and Literary
Value,” pp.1-25. Oxxford Scholarship Online.
Grixti,
Joe. 2009. “Pop Goes the Canon, Consumer Culture and Artistic Value in Screen
Adaptations of Literary Clasics.” European
Journal of Cultural Studies, vol. 12 (4) pp.447-467.
Gural,
Svetlana K. dan Stepan A.Boyko. 2014. “Analisys of the Literary Text’s
Conceptosphere in the Process of Teaching Literary Translation.” The XXV Annual International Academic Conference,
Language and Culture.
Harland,
Tony dan Neil Pickering. 2011. Values in
Higher Education Teaching. Londen: Loutledge, Taylor and Prancis group.
Halsted, dan Monica J.Taylor, (Eds.). 2005. Values in Education and Education in Values. London: Routledge
Falmer.
Haydon, Graham. 2006. Values in Education. New York:
Continuum.
http://sastrawan.com/index.php/puisi/cerita-dongeng-cerita-rakyat,137/i-tui-tuing,diunduh
1 juli 2016.
http://dongengceritarakyat.com/kumpulan-cerita-rakyat-daerah-sulawesi-barat/
diunduh 1 Juli 2016.
Leicester,
Mal, C.modgil dan S.Modgil, (Eds.).
2005. “Classroom Issues: Practice, Pedagogy
and Curriculum, Education Cuture and Value,” vol. 3. New York: Rotledge Falmer,
Taylor and Prancis Group.
Lazar,
Gillian. 1993. Literature and Language
Teaching, Answer Guide Teachers and Trainers. United Kingdom: Cambridge
University Press.
Martono.
2010. Pembentukan Karakter Generasi Muda
dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Idionsinkrasi Pendidikan Karakter melalui Bahasa dan
Sastra. Yogyakarta: Kepel Press.
Maurice, Furnley. 2014.
“The Literary Value of Human Agony. Journal
Australian Quarterly, Vol. 10
No.2, pp.65-72. Dalam AIPS, Auastralian
Institute of Policy and Acience. JStor.
Mustika,
Ika. 2011. Pembinaan Karakter Melalu Pembelajaran Sastra Berbasis Strategi
Metakognitif dalam Kholid A.Harras, dan Ma’mer Saadie, (Eds.). Pendidikan Sastra dan Karakter Bangsa.
Bandung: FBBS,UPI.
Peraturan Menteri Pendidikan Dan
Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2016
Tentang Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Peraturan Menteri Pendidikan Dan
Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan Standar Isi.
Poole, Michael. 1995. Bielief and Values in Science Education.
USA: Open University Press.
Rees, C.J.Van. 1987. How Reviewerrs Reach consensus on the Value
of Literary Works. North Holland: Elsevier Science Publisher.
Ruaire,G.Mac E.Ottesen, dan
R.Precey.2013. Leadership for Inclusive
Education, Value, Vision, and Voices. Rotterdam: Sesse Publishers.
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan: Model-Model
Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius.
Sparadley,James P. . 1997. The
Ethnographic Interview. Yogyakarta:
tiara wacana.
Stephenson,
Joan, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper.
2005. Values in Education. London:
Routledge.
Sugihastuti.
2001. Sastra Anak: Penangkal Distorsi Kemanusiaan. Makalah. Yokyakarta: UAD.
Urlaub, Per. 2012. “Reading Strategies and Literature Instruction:
Teaching Learners to Generate Questions to Foster Literary Reading in Second
Language.” Sciverse Science Direct, System, 40 (2012), pp. 296-304. USA:
Elsevier.
Wringe, Colin. 2005. “Three Approaches to Moral Education” dalam Education for Values, Roy Gardner, Jo
Cairns, dan Denis Lawtin, (Eds.). London: Kogan Page.
Zuriah, Nurul.
2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan.
Jakarta: Bumi Aksara.
