Sabtu, 14 Januari 2017




KAJIAN NILAI SASTRA ANAK SULAWESI BARAT
ALTERNATIF MATERI AJAR DALAM PENGAJARAN SASTRA
Juanda
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan  Sastra
Universitas Negeri Makassar
HP 085255007915

ABSTRAK
Dongeng sebagai sastra anak merupakan cerita rakyat yang telah ditulis dalam bentuk kumpulan cerita rakyat nusantara. Sulawesi Barat memiliki aneka sastra anak seperti dongeng  yang belum digunakan sebagai materi ajar di sekolah karena kurang bahan pustaka hasil kajian mengenai nilai-nilai dongeng tersebut. Dongeng menumbuhkan kreativitas, menanamkan karakter dan moral yang baik bilamana diajarkan di sekolah.  Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai dongeng yang ada di Sulawesi Barat dan dongeng sebagai alternatif materi ajar dalam pengajaran sastra di sekolah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Metode yang digunakan adalah  deskriptif. Sumber data berasal dari  dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik pemahaman arti secara mendalam, analisis isi, dan analisis interaktif- dialektis. Hasil penelitian, yaitu nilai-nilai yang ada dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing adalah nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Karya sastra ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah karena mengandung nilai-nilai luhur sehingga siswa dapat menarik pelajaran yang berharga untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kata Kunci: Nilai, Sastra Anak, dan Pengajaran Sastra









THE STUDY OF THE VALUE OF CHILDREN’S LITERATURE IN WEST SULAWESI AS ALTERNATIVE TEACHING MATERIALS IN TEACHING LITERATURE

Dr. Juanda, M.Hum.
Indonesia and Literature Department, Faculty of Language and Literature
Universitas Negeri Makassar
Hp 085255007915

Abstract

The folktale as children literature is a folklore written in the form collection of literary archipelago.  West Sulawesi has some varieties of children’s literature, such as folktale that has not been used as teaching materials at school because they have not enough literary review about the values which are in that folktales. The folktale can improve creativity, good moral and character in teaching at school. This research  aims at finding out the study of folktale values in West Sulawesi and as alternative teaching materials in teaching literature at school. This research is qualitative. The method used in this research is descriptive. The primary data are from, Samba Paria and I Tuing-Tuing folktales. The data collection are from documentation technique. The data analysis used in-depth meaning, content, and interactive dialectics. The result of the research shows that Somba Paria, and I Tuing Tuing folktales contain social, education, religious, and culture values. These literary work can be an alternative teaching material at school, because they contain very good values and can be applied in the daily life of family, education and environment.


Keywords : Value, Children’s literature, and teaching literature

PENDAHULUAN
Dongeng sebagai sastra anak merupakan cerita rakyat yang telah ditulis dalam bentuk kumpulan cerita rakyat nusantara. Sulawesi Barat memiliki aneka sastra anak seperti dongeng  yang belum digunakan sebagai materi ajar di sekolah karena kurang bahan pustaka mengenai kajian nilai-nilai dongeng tersebut. Dongeng menumbuhkan kreativitas, menanamkan pendidikan karakter dan moral yang baik bilamana diajarkan di sekolah. Dongeng dapat menjadi sarana pengembangan watak peserta didik. Sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
            Ciri khas kedaerahan, sastra anak, yang tersebar di wilayah nusantara perlu dilestarikan dengan mengadakan inventarisasi nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra anak tersebut. Hal ini merupakan pondasi untuk memenuhi kebutuhan masa depan bangsa Indonesia dan menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045. Oleh karena itu, telah ditetapkan Standar Kompetensi Lulusan yang berbasis pada Kompetensi Abad XXI, Bonus Demografi Indonesia, dan Potensi Indonesia menjadi Kelompok 7 Negara Ekonomi Terbesar Dunia, dan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia terhadap pembangunan peradaban dunia.
            Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, prinsip pembelajaran yang digunakan, antara lain: Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu; peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;  pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
 UNESCO dalam Konferensi Internasional ke-48 tentang pendidikan pada tahun 2008 menetapkan konsep pendidikan untuk pengembangan sumber daya manusia, belajar sepanjang hayat untuk semua dan kesamaan akses dan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat  (Ruaire, E.Ottesen, dan R.Precey,2013: 10). Karya sastra abad ke-19, sastra lisan merupakan bentuk teks yang memuat nilai budaya (Gural dan Stepan A.Boyko, 2014: 341).            Kajian nilai dalam sastra telah dilakukan, antara lain: (Grixti, 2009) yang mengangkat sastra klasik dengan komponen nilai-nilai budaya yang dimodifikasi dalam film. Penelitian (Gural, S.A. Boyko dan T.S. Serova, 2015: 436) meneliti sastra sebagai suatu bentuk teks dan mekanisme transformasi dan representasi pemahaman bahasa. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai dongeng yang ada di Sulawesi Barat dan dongeng sebagai alternatif materi ajar dalam pengajaran sastra di sekolah.

TEORI
Pembelajaran sastra, pada hakikatnya bertujuan agar peserta didik beroleh pengetahuan dan pengalaman bersastra. Intinya pembelajaran sastra bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengapresiasi karya sastra. Dengan pengalaman mengapresiasi  dan menggauli cipta sastra secara sunguh-sungguh  diharapkan tumbuh pemahaman, penghayatan, penikmatan, dan penghargaaan peserta didik terhadap karya sastra tersebut. Peserta didik  memperoleh manfaat dalam memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bahasa (Mustika, 2011: 59). Sastra anak adalah  “Writing designed to appeal to children-either to be read to them or by them including fiction, poetry, biography and history. Children literature’s literature also includes riddles, precepts, fables, myths, and folk- poem and folktales based on spoken tradition“ (Sugihastuti, 2001: 2). Penyediaan bahan bacaan sastra dan membacakan cerita untuk anak membantu memenuhi kebutuhan dasar anak akan perasaan aman terlindungi, kebutuhan akan rasa dicintai dan mencintai, juga kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (needs to know and understand) serta kebutuhan estetis (aesthetic needs) (Schultz, 1991:93). Strategi membaca efektif dalam konteks pembelajaran bahasa kedua secara lebih khusus dapat dilakukan dengan membaca sastra (Urlaub, 2012: 298). Anak memiliki tahap perkembangan yang pesat. Tahap perkembangan menurut Peaget (1932) pada anak antara lain meningkatkan kesadaran mereka terhadap pengaruh tindakan yang dilakukan (Cooper, 2011:18).
Persoalan nilai dan pengajarannya telah dibicarakan oleh filsuf Socrates dan Aristoteles. Pengajaran nilai menurut Socrates selalu berkaitan dengan moral dan logika. Aristoteles mengemukakan  moral yang baik meliputi: friendliness, honesty, justice dan courage. Seseorang dapat melakukan tindakan moral bilamana dipertentangkan, misalnya: honesty-dishonesty; patience-impatience; courage-cowardice; hard work-slothfulness. Pengajaran moral dapat dilakukan dengan membandingkan dan mempertentangkan antara perilaku dengan tindakan (Stephenson, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper, 2005:5-6).
Sastra merupakan serangkaian ajaran normatif tidak hanya fungsi dan nature pada sastra tetapi juga efek kompeten dan estetis pada pembaca (Rees, 1987: 277). Nilai terdiri atas berbagai jenis yang mudah digambarkan seperti kata berikut ini:  self-respect; self-discipline; care (for others); goodwill; respect (for others); loyalty; trust; cooperation; love; commitment; truth; integrity; honesty; balance; diversity; beauty naturally occur on many people's list of moral values. It is easy to add more words for values that may not be moral values, such as: security (a sense of security); comfort; cheerfulness; convenience; intelligence; efficiency; cost-effectiveness; neatness; reasonableness (Haydon, 2006:35-36). Nilai adalah hal-hal yang merujuk pada care and compassion, doing your best, fair go, freedom, honesty and trustworthiness, integrity, respect, responsibility, understanding, tolerance  (Freakley, G. Burgh, dan L.T. Macsporran, 2008:9).
            Nilai merupakan validitas individual, seseorang dapat memberikan penilaian kepada orang yang lain. Keputusan nilai apakah itu bagus ditentukan dalam komunitas atau kelompok sosial. Nilai secara intuitif dapat menjadi persetujuan, misalnya agak sulit memilih antara kebahagiaan dan rasionalitas dan lebih gampang memilih antara kebebasan dan perbudakan atau kebenaran dan kebohongan (Harland dan Neil Pickering, 2011: 10). Nilai merujuk pada principles, fundamental convictions, ideals, standards or life stances wich act as general guide to behavior or as points of reference in decision-making or the evaluation of beliefs or action and which are closely connected to personal integrity and personal identity (Halsted, dan Monica J.Taylor, 2005: 4).
Berbicara tentang nilai karya sastra, tidak dapat dilepaskan dari pendidikan moral, yaitu dari sudut pandang sosial dan kelompok. Pendidikian moral dari pandangan pemakaian dalam masyarakat dimulai pada pendidikan waktu masih muda seperti tindakan individu dalam kekerasan, pencurian, kejahatan, vandalism, dan yang mirip kemabukan, narkoba, dan masalah pergaulan dalam lingkungan keluarga. Pendidikan moral dapat menekan hal-hal yang disebutkan di atas dalam masyarakat. Pandangan nilai dalam kelompok merupakan komitmen tingkah laku dan percaya adalah hal yang bukan utama sebab hal yang tepat dihormati orang dewasa merupakan bagian dari bentuk nilai yang dilaksanakan dalam kehidupan dengan sistem utama pada kepercayaan, praktis, dan pertaliannya dalam kepercayaan kelompok (Wringe, 2005: 37-38). Pendidikan moral mempunyai peranan penting di sekolah, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab (Zuriah, 2007: 9).
Empati sebagai keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi diperlukan dalam kepemimpinan dan keorganisasian yang dipelajari di sekolah (Stephenson, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper, 2005:216).  Ada tiga unsur dalam nilai, yaitu: thinking, feeling, and willing atau kognitif, afektif, dan volitional ‘kemauan’ (Poole, 1995: 18). Kritik yang kompeten digunakan dalam menilai karya sastra yaitu sastra yang baik berkontribusi pada keterampilan menulis, kemampuan berpikir, penguasan bahasa, dan kekritisan (Cummins, 2016: 108). Isi dongeng terdapat hal-hal yang bersifat humor: ironis, menusuk, menakutkan, seram (Maurice, 2014: 68).
Komponen intrinsik dan objeknya, nilai estetis dalam karya sastra merupakan bagian yang utama dalam penekanan pemakaian kognitif adalah elemen utama dalam apresiasi kesatuan bentuk yang tidak dapat dipisahkan dengan persepsi, emosi, dan imajinasi. Dapat ditekankan bahwa interpretasi kognitif ditemukan secara tersirat sebagai tema dalam suatu penceritaan. Pengertian ini memberikan peran unsur formal atau unsur struktur. Tema dalam suatu cerita berkaitan dengan kehidupan menarik bagi manusia  yang berkaitan masalah etika dan sosial dan hubungannya dengan individu. Hal ini merupakan bahan dalam suatu konflik cerita yang merupakan bahan pula dalam unsur penceritaan (Goldman, 2013:6). Nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik dalam sastra adalah baik untuk diri sendiri dan apakah baik untuk instrument pencarian pada yang lain (Appelbaum, 2016: 1). Selanjutnya (Berning, 2013) menganalisis teks untuk menemukan nilai moral yang terdapat dalam cerita.
Konteks pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan seseorang. Sejumlah orang dapat meningkatkan kehidupannya, merupakan bagian dari hidupnya. Setelah melewati masa anak-anak, kita masih menjalani konteks pendidikan, misalnya dalam konteks sekolah, mahasiswa, pelatihan professional. Hal ini hampir menjadi garansi yang membawa orang tidak menjadi bagian pada nilai yang sama. Isi konteks ini berpotensi untuk konflik antar seseorang dengan yang lain sebab mereka memiliki nilai yang berbeda (Leicester, C.Modgil dan S.Modgil, 2005: 75).
Kebudayaan adalah pengetahuan yang diperoleh dan digunakan oleh manusia  untuk menginterpretasi pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial (Spradley, 1997: 5). Budaya menghasilkan karya sastra mengekspresikan kehidupan dalam bentuk, genre yang biasa juga dituliskan dalam bentuk kritik, pemberitaan oleh jurnalis, ulasan, obituary ’berita kematian’ atau dalam  blog (Aegleton, 2011: 172).
            Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun bahan ajar meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan dengan standar kompetensi dan kompetensi  dasar yang ditargetkan. Widdowson (Martono, 2010: 118) menguraikan bahan ajar atau materi pembelajaran sastra, yaitu materi ajar harus memiliki dua prinsip. Pertama, bahan pengajaran sastra harus memperhatikan keberadaan teori sastra sebagai disiplin yang berkaitan dengan perangkat konsep, jalan pikiran, maupun penemuan sehubungan dengan keberadaan karya sastra. Kedua, bahan pengajaran sastra harus didudukkan sebagai subjek yang ditata sesuai dengan disiplin dan prinsip dalam metodologi pendidikan. Lazar (2002: 52) menjelaskan bahwa kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teks sastra untuk bahan ajar adalah: (1) latar belakang budaya siswa; (2) kemahiran sastra siswa; (3) latar belakang sastra siswa. Khusus materi cerpen  (Elkins, 1976: 68) menyarankan memilih cerpen yang memenuhi kriteria berikut: (1) berkosentrasi pada plot, karakter, setting dan tema; (2) mencakup kompleksitas dan ambiguitas untuk meningkatkan kepekaan dan level kognitif siswa dan aspek naratifnya tetap terjaga sehingga pembelajaran tetap menarik.
METODE
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah  deskriptif.  Sampel penelitian yang digunakan sebagai Sumber data berasal dari  dongeng yang dituturkan di Sulawesi Barat yang berjudul Samba Paria dan I Tuing-Tuing. Pengumpulan data, dongeng dilakukan dengan teknik studi dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik pemahaman arti secara mendalam, analisis isi, dan analisis interaktif- dialektis. Teknik analisis data berorentasi pada pendekatan peneliti sebagai pembaca dongeng “reader oriented” dan functional seperti yang dikemukakan dalam Formalisme Rusia (Brown, 2014:117). Selanjutnya dalam penganalisisan teks diadakan interpretasi makna kata, frasa, dan kalimat. Analisis teks  untuk menentukan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra (Davies, 2006:224).
HASIL DAN PEMBAHASAN
   Hasil penelitian berdasarkan data yang telah dianalisis menemukan nilai-nilai dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing, yaitu: nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Nilai tersebut dapat dideskripsikan dalam data di bawah ini.
1.Nilai Sosial
Nilai sosial dapat dilihat adanya saling kepedulian antara ayah, ibu dan I  Tuing-Tuing. I Tuing- Tuing selalu membantu ayahnya matongga ‘menangkap” ikan di Teluk Mandar. Ibu menyiapkan masakan keluarganya setiap hari. Contoh kutipan di bawah ini.
“Waktu terus berjalan. Beberapa tahun kemudian, I Tuing-Tuing pun tumbuh dewasa. Ia sering ikut bersama ayahnya motangnga di sekitar Teluk Mandar. Ia juga rajin membantu ibunya memasak di dapur sepulangnya dari motangnga.” (ITT).
Nilai sosial selanjutnya dapat dilihat pada dongeng Samba Paria. Samba Paria menolong/mengambilkan air Sang Raja yang kehausan. Air tersebut diambil letaknya jauh di balik gunung. Selain itu, kehidupan antara kakak dan adik selalu saling menyayangi dan saling menolong bila mengalami kesulitan. Samba Paria akhirnya hidup dalam ketenangan kedamaian meskipun hidupnya di tengah hutan belantara.Contoh kutipan di bawah ini.
“Ampun Baginda Raja, air minum hamba telah habis,” jawab Samba Paria. Namun, Jika baginda raja bersedia menunggu, biarlah adik hamba mengambilkan air ari mata air di balik gunung terlebih dahulu.” (LSP).
“Adik Samba Paria sangat gembira melihat kakaknya telah pulang. Ia yang tengah sakit keras akhirnya bersedia makan masakan buatan kakaknya. Kesehatannya pun  segera berangsur-angsur membaik.” (LSP).
“Samba Paria dan adiknya  kemudian hidup dalam ketenangan  dan kedamaian setelah  sang raja yang jahat kelakuannya itu meninggal dunia. Keduanya tetap tinggal di rumah panggung  mereka di tengah hutan belantara.” (LSP).
2.Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan dalam sasrta anak adalah nilai-nilai yang ada dalam sastra, misalnya dongeng. Nilai ini sesuai dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan berkaitan dengan  eksplorasi dan penemuan, perkembangan bahasa, pengembangan nilai keindahan penanaman wawasan multikultural, penanaman kebiasaaan membaca, dan penanaman pembentukan karakter. Nilai pendidikan yang merupakan pendidikan karakter dapat dilihat pada kutipan yang memfokuskan pada karakter pemaaf, menghargai pendapat orang lain, jujur, disiplin, dan penyayang, dan kebenaran. Ibu I Tuing-Tuing selalu menghaturkan ucapan maaf kepada juragan sebelum memulai pembicaraan. Selanjutnya juragan memintai pendapat anak-nakanya sebelum memutuskan penerimaan lamaran dari orang tua I Tuing-Tuing. Orang tua tidak memaksakan kehendak kepada anaknya. Contoh kutipan di bawah ini.
 “Maaf Juragan, jika kami terlalu lancang terhadap keluarga Juragan. Kami bermaksud untuk menyampaikan pinangan anak kami I Tuing-Tuing kepada salah seorang putri Juragan,” ungkap Ayah Tuing-Tuing.” (ITT).
“Oh begitu...! Baiklah, aku akan menanyakan hal ini kepada putri-putriku, siapa di antara mereka yang bersedia menikah dengan I Tuing-Tuing,” jawab sang Juragan seraya mengumpulkan semua putrinya, kecuali Siti Rukiah yang tetap dikurung dalam kamar.” (ITT).
            Kejujuran dapat dilihat pada anak juragan, putri bungsu yang menerima lamaran I Tuing-Tuing tanpa merasa terpaksa atau tanpa membohongi kata hatinya dan kejujuran Juragan mengemukakan kejelekan anaknya. Contoh kutipan di bawah ini.
“Maafkan kami, Pak! Aku lupa, ternyata aku masih mempunyai seorang putri lagi, namanya Siti Rukiah. Tapi lihatlah, wajahnya sangat buruk, karena setiap hari pakai bedak arang. Apakah kalian bersedia menerimanya?” sang Juragan balik menawarkan putrinya kepada kedua orangtua I Tuing-Tuing.” (ITT).
“Dengan senang hati, Tuan! Wajah cantik tidaklah terlalu penting bagi anak kami. Tapi, yang penting putri Juragan bersedia untuk hidup bersama dengan anak kami,” jawab ibu I Tuing-Tuing. (ITT).
            Nilai pendidikan khususnya pendidikan karakter yang berkaitan dengan kerajinan dapat dilihat pada perilaku tokoh I Tuing-Tuing yang rajin membantu orang tuanya menangkap ikan. Contoh kutipan di bawah ini.
“Ia juga rajin membantu ibunya memasak di dapur sepulangnya dari motangnga. Tidak heran jika kedua orang tuanya semakin sayang kepadanya. Apa pun permintaannya, mereka selalu berusaha untuk memenuhinya.” (ITT).
Selanjutnya nilai pendidikan yang terdapat dalam dongeng I Tuing-Tuing yaitu yang berkaitan dengan goodwill ‘jasa baik’. I Tuing-Tuing tidak melupakan jasa baik kedua orang tuanya sehingga keduanya mengadakan silaturrahmi. Nilai pendidikan berikut adalah nilai yang berkaitan dengan comfort atau menyenangkan. Keluarga I Tuing-Tuing sangat senang melihat anaknya, I Tuing-Tuing dan menantunya Siti Rukiah. Contoh kutipan di bawah ini.
 “ Pertama-tama mereka mengunjungi rumah orangtua I Tuing-Tuing. Alangkah terkejutnya kedua orangtua I Tuing-Tuing ketika mengetahui bahwa lelaki gagah dan tampan itu adalah anaknya, dan gadis cantik itu adalah menantunya. Demikian pula ketika mereka sampai di rumah orangtua Siti Rukiah. Keluarga Siti Rukiah seakan-akan tidak percaya pada kenyataan itu, terutama kelima saudarinya. Mereka pun sangat menyesal, karena dulu menolak pinangan I Tuing-Tuing.” (ITT).
            Nilai yang menunjukkan penyayang dapat dilihat pada tokoh Siti Rukiah yang hidup rukun dengan suaminya dengan saling menyayangi. Contoh kutipan di bawah ini.
 “Namun, semuanya hanya tinggal penyesalan. Entah sampai kapan kelima gadis itu terus menunggu jodoh mereka datang. Sementara, Siti Rukiah hidup rukun dan bahagia bersama suami tercintanya, I Tuing-Tuing.“ (ITT).
            Nilai kebenaran dapat dilihat pada dongeng Samba Paria, yaitu Samba Paria memberikan jejak kepada adiknya yang ditinggalkan. Akhirnya tempat Samba Paria yang dibawa pergi oleh Raja dapat diketahui. Nilai kebenaran diungkapkan secara tersirat. Sang raja yang membuat kejahatan meninggal. Sementara Samba paria yang selalu melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan norma kebenaran hidup bahagia. Contoh kutipan di bawah ini.
“Tanpa diketahui para prajurit yang mengawalnya, Samba Paria merobek daun-daun paria yang dibawanya itu dan dibuangnya di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dengan cara itu ia berharap adiknya dapat mengikutinya hingga ke tempat di mana ia di bawa.“ (LSB).
3.Nilai Religius
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan kepercayaan atau yang berkaitan dengan Tuhan. Nilai yang mengarahkan seseorang melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan atau norma agama. Nilai ini dapat dilihat pada kedua orang tua I Tuing-Tuing selalu berdoa kepada Tuhan. Hal ini dilakukan agar mereka dikaruniai seorang anak. Selanjutnya mereka berdoa demi keselamatan kandungan anaknya dan keselamatan pada saat melahirkan. Contoh kutipan di bawah ini.
“Ya Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah kepada kami seorang anak laki-laki, walaupun bentuknya menyerupai tuing-tuing!” Doa sepasang suami-istri itu.” (ITT).
“Setiap malam ia selalu berdoa kepada Tuhan agar kelak istrinya melahirkan dengan selamat. Demikian pula sang Istri, ia senantiasa menjaga dan merawat bayi di dalam kandungannya agar tetap dalam keadaan sehat.” (ITT).
4.Nilai Budaya
Nilai budaya adalah nilai yang diwariskan oleh nenek moyang yang tetap hidup dan berakar di masyarakat. Tradisi atau adat yang muncul dalam suatu komunitas tertentu selalu dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun. Tradisi budaya seperti tradisi pada saat usia kandungan seseorang berumur tujuh bulan. Acara ini disebut dengan acara niuri dengan persiapan yang dibutuhkan. Hal ini dimaksudkan sebagai keselamatan bayi pada saat dilahirkan. Contoh kutipan di bawah ini.
“Tidak terasa, usia kandungan sang Istri sudah menginjak tujuh bulan lebih. Seperti halnya masyarakat Mandar lainnya, mereka pun mengadakan acara tujuh bulanan yang disebut dengan niuri secara sederhana. Mereka pun menyiapkan beberapa jenis kue yang bentuknya bulat, seperti onde-onde, gogos, dan semacamnya, dengan harapan kelak sang Istri melahirkan anak laki-laki. Berbeda halnya jika mereka mengharapkan anak perempuan, mereka harus menyiapkan kue-kue yang berbentuk gepeng, seperti pupu, lapisi, katiri mandi, dan semacamnya” (ITT).
Setelah acara nipande mangidang (makan kue bersama), mereka kemudian melantunkan lagu-lagu Mandar yang berisi doa, seperti berikut:
Alai sipa`uwaimmu
Pidei sipa` apimmu
Tallammo`o liwang
Muammung pura beremu
Artinya :
Ambil sifat airmu (gampang mengalir)
Padamkan sifat apimu (panas)
Keluarlah engkau
Membawa takdirmu

Uwai penjarianmu 
Uwai pessungammu
Uwai pellosormu
Uwai pellene`mu
Uwai peoromu
Uwai pellambamu
Uwai atuo-tuoammu.
Artinya :
Engkau tercipta dari air
Keluarlah merangkak, duduk dan berjalan seperti lancarnya air mengalir
Murahlah rezekimu dan dingin seperti air“ (ITT).

Berdasarkan analisis data kedua dongeng di atas maka pada bagian pembahasan ini akan diulas nilai dan materi ajar dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing. Kedua dongeng ini memiliki nilai, yaitu: nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Nilai pendidikan berisi pendidikan dalam hal pembentukan karakter seperti pemaaf, menghargai, jujur, disiplin, menghormati, penyayang, dan kebenaran seperti yang dikemukanan oleh (Halsted, dan Monica J.Taylor, 2005). Dalam dongeng Samba Paria terdapat hal-hal yang bersifat ironis, menusuk, menakutkan, seram (Maurice, 2014). Hal ini dapat dilihat dalam penggambaran tokoh keduanya perempuan tetapi mereka hidup di hutan. Figur tokoh seperti ini dapat menjadi ironi bagi kaum perempuan untuk dapat hidup mandiri.
Kedua dongeng yang telah dianalisis dapat menghasilkan empati kepada siswa terhadap tokoh-tokohnya empati sebagai keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi diperlukan dalam kepemimpinan dan keorganisasian yang dipelajari di sekolah (Stephenson, L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper, 2005:216). Nilai-nilai dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing dapat menjadikan siswa berpikir lebih kritis dalam aspek kognitif sehingga mempengaruhi aspek afektif dan kemauan bertindak sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Ada tiga unsur dalam nilai, yaitu: thinking, feeling, and wiiling atau kognitif, afektif, dan volitional ‘kemauan’ (Poole, 1995).
Samba Paria dan I Tuing-Tuing, keduanya dapat dijadikan materi ajar di sekolah. Karya sastra ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah karena mengandung nilai-nilai luhur sehingga siswa dapat menarik pelajaran yang berharga untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kebudayaan adalah pengetahuan yang diperoleh  dan digunakan oleh manusia  untuk menginterpretasi pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial (Spradley, 1997: 5). Nilai budaya ini terdapat dalam dongeng I Tuing-Tuing yaitu budaya Mandar niuri. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun bahan ajar meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditargetkan. Widdowson (Martono, 2010: 118) menguraikan bahan ajar atau materi pembelajaran sastra harus memiliki dua prinsip. Pertama, bahan pengajaran sastra harus memperhatikan keberadaan teori sastra sebagai disiplin yang berkaitan dengan perangkat konsep, jalan pikiran, maupun penemuan sehubungan dengan keberadaan karya sastra. Kedua, bahan pengajaran sastra harus didudukkan sebagai subjek yang ditata sesuai dengan disiplin dan prinsip dalam metodologi pndidikan. Lazar (2002: 52) menjelaskan bahwa kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teks sastra untuk bahan ajar adalah: (1) latar belakang budaya siswa; (2) kemahiran sastra siswa; (3) latar belakang sastra siswa. Khusus materi cerpen  (Elkins, 1976: 68) menyarankan memilih cerpen yang memenuhi kriteria berikut: (1) berkosentrasi pada plot, karakter, setting, dan tema; (2) mencakup kompleksitas dan ambiguitas untuk meningkatkan kepekaan dan level kognitif siswa dan aspek naratifnya tetap terjaga sehingga pembelajaran tetap menarik.
Implikasi penelitian ini yaitu: implikasi teoretis dalam penelitian ini adalah menambah pengayaan dalam teori sastra dan pengajarannya khusunya terhadap pengajaran nilai kepada peserta didik melalui karya satra, sastra anak yang berupa dongeng. Implikasi di bidang kebijakan khususnya kepada penentu kebijakan dalam penyusunan kurikulum agar memberikan porsi pada pengajaran sastra, sastra anak yang mencukupi berdasarkan pengalokasian waktu. Di sekolah pengadaan materi ajar/buku dongeng diharapkan disediakan secara mamadai di perpustakaan. Implikasi Metodologis, Peneliti selanjutnya dapat menggunakan pendekatan feminisme dalam penelitian sastra anak.

SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian, yaitu nilai-nilai yang ada dalam dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing adalah nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius, dan nilai budaya. Karya sastra ini dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah. Dongeng Samba Paria dan I Tuing-Tuing mengandung nilai-nilai luhur sehingga siswa dapat menarik pelajaran yang berharga untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Disarankan kepada peneliti selanjutnya mengadakan pengkajian sastra anak yang tersebar di pelosok nusantara, Sulawesi Barat. Sastra anak tersebut dikaji dengan berbagai pendekatan untuk menemukan kandungan nilai sastra tersebut. Hal ini dilakukan guna pelestarian nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sebagai alat pemertahanan identitas pada era globalisasi. Era globalisasi dapat melunturkan ciri identitas bangsa. Sastra mencakup empat genre, yaitu: prosa, puisi, drama dan film. Sastra anak berupa dongeng dapat dielaborasi dalam bentuk film sehingga menjadi media pembelajaran sastra di sekolah.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan sejawat yang telah mengadalan validasi isi penelitian ini; teman sejawat yang telah memberikan bantuan pengayaan referensi. Terima kasih kepada pihak yang telah mengadakan editing tulisan ini. Terima kasih kepada panitia Forum Ilmiah XII FPBS 2016, Seminar Internasional Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya ‘Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi Asean’ atas dimuatnya artikel ini dalam  prosiding.
DAFTAR PUSTAKA
Appelbaum, Robert. 2016. Rónán McDonald, Editor: The Values of Literary Studies: Critical Institutions,Scholarly Agenda. Cambridge: Cambridge University Press, 2015. ISBN 978-1-107-57568-4. 265 pages. Studia Neplologica. Routledge.

Berning, Nora. 2013. “Towards a Critical Ethical Narratology: Analyzing Value
Construction in Literary Non-Fiction across Media.” WVT-Handbücher und Studien
zur Medienkulturwissenschaft 9. Trier: Wissenschaftlicher Verlag Trier.
Brown, Edward J. 1900. “Literary Structure Evolution, and Value: Russian Formalism and Czech Sctructuralism, Jurij Striedter.”  Journal Aseees vol. 49,No.1,pp. 117-118.
Cooper, Bridget. 2011. Emphaty in Education, Engagement, Values, and Achievement. New York: Continuum.
Cummins, Anthony. 2016. “Emile Zola’s Cheap English Dress: The Vizetelly Translations,            Late Victorian Print Culture, and The Crisis of Literary Value.” Oxford Journals, vol.60    No. 243, pp 108-132.
Davies, Stephen. “Author’s Intentions, Literary Interpretation, and literary Value.” British            Journal of Aestetis, vol.46, No.3 July 2006. British Society of Aesthetics.
Eagleton, Mary. 2011. Who old is New: Diana Athill and Literay Value. Oxford: Oxford   university Press.
Elkins, Deborah. 1976. Teaching Literature. Ohio: Charle E. Merril Publishing Co.
Freakley,Mark,  G. Burgh, dan L.T. Macsporran. 2008. “Values Education in Schools, A   Resource Book for Student Inquiry.” Australia: Acer Press. 20-22 October 2014. Procedia Social and Behavior Science, 154 (2014),pp. 340-344.
Goldman, Alan H. 2013. ‘Introduction Introduction Philosophical Content and Literary Value,” pp.1-25. Oxxford Scholarship Online.
Grixti, Joe. 2009. “Pop Goes the Canon, Consumer Culture and Artistic Value in Screen Adaptations of Literary Clasics.” European Journal of Cultural Studies, vol. 12 (4) pp.447-467.
Gural, Svetlana K. dan Stepan A.Boyko. 2014. “Analisys of the Literary Text’s Conceptosphere in the Process of Teaching Literary Translation.” The  XXV Annual International Academic Conference, Language and Culture.
Harland, Tony dan Neil Pickering. 2011. Values in Higher Education Teaching. Londen: Loutledge, Taylor and Prancis group.
Halsted, dan Monica J.Taylor, (Eds.). 2005. Values in Education and Education in Values. London: Routledge Falmer.
Haydon, Graham. 2006. Values in Education. New York: Continuum.
Leicester, Mal,  C.modgil dan S.Modgil, (Eds.). 2005.  “Classroom Issues: Practice, Pedagogy and Curriculum, Education Cuture and Value,” vol. 3. New York: Rotledge Falmer, Taylor and Prancis Group.
Lazar, Gillian. 1993. Literature and Language Teaching, Answer Guide Teachers and Trainers. United Kingdom: Cambridge University Press.
Martono. 2010. Pembentukan Karakter Generasi Muda  dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Idionsinkrasi  Pendidikan Karakter melalui Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: Kepel Press.
Maurice, Furnley. 2014. “The Literary Value of Human Agony. Journal Australian Quarterly,      Vol. 10 No.2, pp.65-72. Dalam AIPS, Auastralian Institute of Policy and Acience. JStor.
Mustika, Ika. 2011. Pembinaan Karakter Melalu Pembelajaran Sastra Berbasis Strategi Metakognitif dalam Kholid A.Harras, dan Ma’mer Saadie, (Eds.). Pendidikan Sastra dan Karakter Bangsa. Bandung: FBBS,UPI.
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan  Nomor 20 Tahun 2016 Tentang  Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar  Kompetensi Lulusan dan Standar Isi.

Poole, Michael. 1995. Bielief and Values in Science Education. USA: Open University Press.

Rees, C.J.Van. 1987. How Reviewerrs Reach consensus on the Value of Literary Works. North Holland: Elsevier Science Publisher.

Ruaire,G.Mac E.Ottesen, dan R.Precey.2013. Leadership for Inclusive Education, Value, Vision, and Voices. Rotterdam: Sesse Publishers.

Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Kanisius.
Sparadley,James P. . 1997.  The Ethnographic  Interview. Yogyakarta: tiara wacana.
Stephenson, Joan,  L.L. Eva Burman, dan Maxine Cooper. 2005. Values in Education. London: Routledge.
Sugihastuti. 2001. Sastra Anak: Penangkal Distorsi Kemanusiaan. Makalah. Yokyakarta: UAD.
Urlaub, Per. 2012. “Reading Strategies and Literature Instruction: Teaching Learners to Generate Questions to Foster Literary Reading in Second Language.” Sciverse Science Direct, System, 40 (2012), pp. 296-304. USA: Elsevier.
Wringe, Colin. 2005. “Three Approaches to Moral Education” dalam Education for Values, Roy Gardner, Jo Cairns, dan Denis Lawtin, (Eds.). London: Kogan Page.
Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.